MENDENGAR kata mumi mungkin pikiran kita akan langsung tertuju pada Negara Mesir. Saking terkenalnya mumi di sana, jenazah yang diawetkan melalui berbagai proses tersebut memiliki film solonya sendiri.
Namun, mumi bukan hanya milik Mesir. Di berbagai negara lain juga punya mumi sendiri tanpa terkecuali Indonesia. Di Distrik Kerulu, kawasan Lembah Baliem, terdapat mumi yang usianya sudah 284 tahun.
Mumi tersebut bernama Wim Motok Mabel dari suku Dani. Wim berarti perang, Motok artinya panglima dan Mabel ialah nama mumi itu. Semasa hidupnya, Mabel ialah panglima perang yang sangat disegani di Lembah Baliem.
Ketika menjelang kematian, Mabel berpesan agar jenazahnya diawetkan. Tujuannya agar anak cucunya bisa mengenang betapa diseganinya Mabel saat masih hidup.
Seiring berjalannya waktu, mumi Wim Motok Mabel bukan hanya menjadi pengingat masa lalu, melainkan juga penarik minat wisatawan untuk datang ke sebuah desa di Distrik Kurulu.
Usia mumi Wim Motok Mabel bisa dihitung dari jumlah tali yang ditambahkan setiap tahunnya. Mumi ini tampak sangat ringkih, terlihat kulit yang mulai mengelupas.
Mulutnya mengaga seakan menjerit saat menghadapi kematian. Warna mumi menghitam akibat proses pengawetan. Agar tetap awet, mumi ini disimpan di kondisi khusus di dalam honai, rumah tradisional Papua.
Pengawetan mumi butuh proses panjang sekitar 200 hari. Mumi akan dilumuri minyak babi kemudian diawetkan di dalam honai. Mumi akan diasapi selama 200 hari hingga mengering dan mengeras.
Kamu harus mengeluarkan uang sekitar ratusan ribu untuk berfoto sepuasnya dengan mumi. Para warga juga menjual kerajianan tangan yang bisa dibeli sebagai suvenir.
Sebenarnya di Papua bukan hanya Wim Motok Mabel yang menjadi mumi hingga berusia ratusan tahun. Di Aikimia, terdapat mumi berusia 250 tahun bernama Werupak Elosak. Semasa hidupnya, ia merupakan seorang kepala suku.
Ia dikenal ramah dan bijaksana. Karena hal itu, penduduk enggak membakar jasadnya. Werupak Elosak diawetkan untuk dikenang jasanya hingga sekarang.
Wamena – Bandara Wamena di Papua kini semakin keren dan nyaman. Bandara baru ini menjadi pintu gerbang untuk liburan seru di Wamena, misalnya menyaksikan Festival Lembah Baliem.
Kondisi bandara di Wamena yang jauh dari kata layak kini sudah tinggal kenangan. Wamena punya bandara baru dengan desain bangunan Rumah Honai khas Papua, yang tentunya lebih keren dan nyaman. Semangat liburan di Wamena pun makin berkobar karena bakalan disambut dengan bandara yang oke punya.
Banyak sekali daerah yang bisa dijangkau dari bandara tersebut untuk liburan. Kalau berkendara sekitar 1 jam dari bandara, traveler bisa menginjakkan kaki di tempat yang setiap tahunnya menjadi lokasi acara favorit turis lokal dan mancanegara, yaitu Festival Lembah Baliem.
Festival Lembah Baliem merupakan salah satu festival budaya tertua di Indonesia. Biasanya, festival dilaksanakan setiap bulan Agustus selama tiga hari. Festival ini menampilkan atraksi perang-perangan antar suku seperti Suku Dani, Lani dan Yali, sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.
Atraksi perang-perangan diperagakan para pria. Mereka akan membawa senjata tombak dan mengenakan pakaian khas serta aksesori lengkap, mulai dari koteka, kalung dari kerang hingga mahkota bulu burung. Sementara para pria beratraksi perang, wanita di sana yang mengenakan pakaian tradisional akan menari untuk menyemangati.
Salah satu prosesi adat di Festival Lembah Baliem (Sastri/detikTravel)
Selain itu, Festival Lembah Baliemjuga makin seru dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah. Ada pula kerajinan tangan dari warga lokal yang dipamerkan dan dijual. Turis yang tertarik bisa langsung membelinya.
Selama di Lembah Baliem, traveler pun bisa melihat langsung Bakar Batu. Ini merupakan cara memasak khas masyarakat Lembah Baliem, di mana batu-batu dipanaskan dengan api kemudian bahan makanan seperti babi dan hasil ladang dipanggang di atasnya.
Pastinya, menyaksikan segala kemeriahan Festival Lembah Baliem bakalan menjadi pengalaman liburan tak terlupakan. Kalau tertarik, segeralah rencanakan liburan Anda ke Lembah Baliem dan pesan tiket pesawat serta hotel agar tidak kehabisan.
TRIBUNTRAVEL.COM – Dalam salah satu lagunya, grup musik Slank melukiskan Lembah Baliem dalam sebuah lagu berjudul sama.
“Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang… Aku cukup senang
Dan akupun tenang.”
Begitulah potongan lirik dari lagu dalam album ke-10 band legendaris ini.
Dilansir dari slank.com, lagu ini merupakan bentuk keprihatinan Slank tentang pembabatan hutan yang sering terjadi.
Lembah Baliem, pun judul-judul lagu Slank lain yang memakai nama daerah lain, tentu saja punya nilai tersendiri bagi grup musik tersebut sehingga menjadikan nama daerah sebagai judul lagu.
Terlepas dari lagu yang dinanyikan oleh Slank, nyatanya Lembah Baliem memang istimewa seperti lirik lagu.
Terletak di lembah Pegunungan Jaya Wijaya tepatnya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, Lembah Baliem dikelilingi pemandangan yang begitu indah.
boredpanda.com
Berada pada ketinggian 1.600 mdpl, Lembah Baliem membentang sepanjang 80 km dan dengan lebar 20 km.
Lembah ini juga dikenal sebagai Grand Baliem Valley yang menjadi tempat tinggal bagi Suku Dani, Suku Yali, dan Suku Lani, dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa.
Ketiga suku tesebut turut mengambil bagian dalam melestarikan budaya yaitu festival perang antar suku yang dikenal dengan nama Festival Lembah Baliem.
Festival tahunan ini diadakan sebagai pengingat betapa pentingnya menjaga perdamaian antar suku bangsa.
Selain Festival Lembah Baliem, ada hal unik lain yang bisa ditemukan di kaki Pegunungan Jaya Wijaya ini.
Satu di antaranya kesederhanaan hidup masyarakatnya yang terlihat dari rumah tempat tinggal mereka.
Dalam kesehariannya, penduduk Lembah Baliem tinggal dalam rumah beratap jerami.
kompasiana.com/dhave
Ada tiga jenis rumah dalam budaya penduduk ini, masing-masing mempunyai fungsinya sendiri.
Eweai merupakan rumah untuk para wanita, sedangkan Honai merupakan rumah para pria.
Sementara itu, Leseai merupakan rumah induk yang bisa ditinggali kepala atau tetua desa.
Sesuai dengan lirik lagu Slank mengenai babi dan ubi, makanan utama penduduk di Lembah Baliem adalah babi dan ubi.
Demi memenuhi kebutuhan pangan, mereka beternak babi dan bertani umbi-umbian.
Nah, tertarik untuk mengunjungi Lembah Baliem?
Jika tertarik, kamu bisa datang bertepatan dengan Festival Lembah Baliem yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus.
Untuk mengunjungi Lembah Baliem, bisa melalui Bandara Sentani di Jayapura, kemudian memesan tiket penerbangan ke Wamena.
The ongoing Baliem Valley Cultural Festival (FBLB) currently held in Baliem Valley, the Jayawijaya Mountains from August 8 to 11 has broken national and world records for the throwing of more than 1,359 sege (traditional spear).
Sege is a war instrument made of wood and has the length of 2.5 meters and the diameter between 5 to 7 meters. The spear is usually painted in black but some tribes decorate it with white and red colors. For hunting purposes, the spearhead is smeared with poison, however, all spears for the festival were painted in black with the tip of the spearhead were made less sharp and poisonless.
“This Sege-throwing activity made it into the national record number 3344/ORI/Agustus/2017 that was signed by Agung Elvianto and World Record Holders Republic (RHR) that has the main office in London. These records were given to Jayawijaya administration for the throwing of 1,000 sege that was done simultaneously,” said Jayawijaya tourism department head Alpius Wetipo.
Throughout the 28 years, FBLB has been held, this is the first time the spear-throwing activity is included in the festival.
A total of 1,359 men took part in the activity that attracted around 50,000 tourists. Only men were allowed to participate, however the total of men from the 14 participating districts were less than 1,000, the committee then decided to allow tourists to participate as well.
Themed ‘Art of Dance & War’, the festival showcases the Papuan war tradition and traditional dances including the War Dance. Some of the Papuan tribes such as Dani, Yali and Yani are taking part in the festival where they will perform a mock tribal war battle. (asw)
Jayawijaya district said the Baliem Valley Cultural Festivalwas one of Papua’s tourism icons, due to its global fame. Jayawijaya Regent John Wempi Wetipo told antaranews.com on Tuesday in Wamena that the event was a concrete step by the local government to preserve the traditional arts and core values of the Dani tribe.
“This event is an important asset to increase local income by the owners of local culture, and also as the government’s income. It’s purposely held every August, in accordance with Independence Day,” he said.
Wetipo also highlighted Jayawijaya regency’s natural tourism potential, “We have the beauty of Baliem Valley and its Baliem River. We also have Habema Lake’s fantastic natural panorama.”
Aside from Baliem Valley and Habema Lake, Wetipo said the Lorentz National Park with its various flora and fauna, the Trikora summit and mummy culture tours are still popular among tourists.
The Baliem Valley Cultural Festival features many cultural aspects of the Dani tribe arts, and this year it highlights the tribal warfare simulation. Organizers of the event have prepared a 400 by 250-meter arena to accommodate up to 1000 warriors and dancers.
The tribal war simulation will be held on two days, featuring 26 groups of up to 50 warriors, and will be accompanied by traditional pikon music of Papua. Pikon is a wood skin-based Papuan musical instrument that makes a soothing sound when blown. The annual Baliem Valley Cultural Festival is held on Aug. 8 to 10 for the 27th time. (asw)
“Ini musik tentang sepi,” begitu kata Walena soal witawo dalam bahasa Baliem. Lemeus Gombo, pemuda Baliem seksi karapan babi dan pikon langsung menerjemahkan ucapan Walena.
Usai Walena, sekelompok anak-anak juga memainkan witawo. Mereka berlima memainkan witawo menggunakan bambu. Cerita yang mereka bawa tak kalah menarik, tentang anak-anak yang ditinggal pergi orang tua dalam keadaan lapar. Kelimanya menghasilkan bunyi berbeda. Ia menjadi sangat indah terdengar ketika dipadukan.
Di sebelah mereka, mama-mama sedang menganyam noken dan bapa-bapa membuat sekan (gelang). Mereka menggunakan busana adat Lembah Baliem. Setelah itu, ada karapan babi dan tiup pikon.
Di arena festival, warga Distrik Tailarek menampilkan atraksi perang-perangan. Perang-perangan ini menceritakan, seorang perempuan sedang menggali ubi di kebun. Tak lama seorang laki-laki datang dan membawanya pergi. Aksi ini menimbulkan kemarahan suku tempat perempuan berasal. Terjadilah perang.
Mama-mama Papua sedang menganyam noken pada Festival Lembah Baliem, yang berlangsung 6-8 Agustus di Wamena, Papua. Foto: Asrida Elisabeth
Atraksi ini memang inti Festival Baliem. Peserta tampil bak orang-orang Baliem dulu berperang, tetapi beberapa peralatan tajam seperti panah diganti batang pion.
Khusus wisatawan manca negara, tersedia lomba panahan. Sasaran panah pohon pisang yang disediakan. Tepukan penonton riau, kala mereka berhasil memanah.
Beragam produk kerajinan khas Baliem juga dijual di stan khusus. Ada kopi, koteka, gelang, noken, sari buah merah, pigura, juga kalung. Kerajinan-kerajinan ini diambil dari hasil alam Papua. Namun, ada juga mama-mama berbusana adat memilih menggelar hasil karya mereka di lapangan terbuka tempat festival berlangsung.
Di bagian lain, tampak beberapa kelompok masyarakat antri menampilkan atraksi. Laki-laki dan perempuan menari-nari menggunakan musik pikon yng dimainkan beberapa pemuda. Mereka juga menari. Wisatawan juga menari bersama.
Bapa-bapa Papua, tengah menganyam gelang di Festival Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth
Peserta yang tampil dari 40 distrik di seluruh Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mereka tampil dalam tiga hari festival, 6-8 Agustus 2015.
Warga antusias tampil dalam setiap atraksi yang dilombakan ini. Masing-masing memiliki tim juri. Perang, misal tiga juri yang menilai kesesuaian tema cerita dengan budaya Baliem, keaslian busana, jumlah peserta dan waktu tampil. Pun lomba panahan untuk wisatawan.
Ceqrapabriv, wisatawan dari Praque, yang baru pertama kali ke Papua dan Wamena mengatakan, festival ini unik dan sangat indah. Dia enam hari di Lembah Baliem. Tiga hari berkeliling menikmati keindahan alam Lembah Baliem, dan tiga hari menyaksikan festival.
Aries, wisatawan dari Salatiga memuji festival ini. “Festival ini bagus. Pengaturan bagus. Full dari awal sampai akhir tidak ada kosong. Juga sangat unik, tidak pernah dilihat di tempat lain.”
Namun, festival ini juga tidak luput kritik, mulai dari promosi sangat minim hingga isi kurang menonjolkan makna di balik setiap atraksi.
Aries merasa sulit mendapatkan informasi dari website resmi festival. “Informasi festival sama sekali tidak ramai. Web tidak ramai, di sosial media juga tidak. Klub fotografi malah yang mengeluarkan ini.”
Dia datang bersama beberapa wisatawan mancanegara mengaku kesulitan penginapan karena hanya satu hotel bisa diakses online.
Banyak turis yang menyaksikan festival ini. Namun, mereka ada yang mengeluhkan minimnya informasi acara. Foto: Asrida Elisabeth
Vero, peneliti dari Universitas Harvard mengingatkan, pemerintah yang menyelenggarakan festival budaya agar memahami dengan baik budaya masyarakat agar tidak terkesan hanya “jualan.”
Sedang Pastor Frans Lieshout, misionaris yang puluhan tahun hidup bersama orang Baliem dan menulis kamus Indonesia-Baliem Baliem-Indonesia mengatakan, festival ini lebih sebagai pamer ketelanjangan dan kehilangan makna. Festival sangat riuh hingga orang gagal menangkap makna di setiap atraksi. Frans juga menyayangkan sikap pengunjung yang tidak tertib saat mengambil gambar sehingga tidak semua bisa dengan nyaman melihat atraksi yang ditampilkan.
Festival ini memang sangat minim informasi, terutama bagaimana kaitan isi festival dengan kehidupan orang Baliem. Tidak ada stan khusus menyajikan informasi penting, misal, sejarah budaya masyarakat di Lembah Baliem, sejarah perang suku, bagaimana wam (babi) dalam sistem kepercayaan masyarakat Baliem, interaksi orang Baliem dengan dunia luar dan berbagai informasi tentang kehidupan suku-suku di lembah ini. Pengunjung hanya disuguhkan atraksi-atraksi.
Di pintu masuk festival panitia sudah menyediakan kotak saran bagi pengunjung yang ingin memberi saran.
Mama-mama Papua, yang menggelang jualan noken di sekitar festival. Foto: Asrida ElisabethAnak-anak muda Papua, yang memainkan musik witawo di Festival Budaya Lembah Baliem, Wamena, Papua. Foto: Asrida ElisabethWarga yang menanti giliran eratraksi pada Festival Budaya Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth
Merdeka.com – Bumi Papua selalu menantang untuk dijelajahi. Terlebih bagi mereka yang memiliki jiwa petualangan. Ada satu momen bagus untuk mengeksplorasi. Yaitu Festival Lembah Baliem 2019.
Penyelenggaraan Festival Lembah Baliem, mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menurutnya, festival ini levelnya dunia.
“Event ini levelnya sudah dunia. Masyarakat internasional sudah mengetahuinya. Sebab atraksi, aksesibilitas, dan amenitas di sana bagus. Dijamin wisatawan akan puas saat berkunjung ke sana,” tuturnya, Rabu (1/8).
Menurut Menpar keindahan alam Papua sudah diakui dunia.
“Papua sangat terkenal dengan keindahannya. Nature dan culturenya sangat eksotis. Festival Lembah Baliem 2018 ini juga sangat artistik. Beragam karya terbaik dari Bumi Papua akan disajikan secara luar biasa,” tuturnya.
Festival Lembah Baliem 2018 akan digelar 8-10 Agustus 2018. Acaranya dipusatkan di Lembah Baliem, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Dalam festival ini, beragam kekayaan artistik khas Bumi Cenderawasih akan ditampilkan secara kolosal. Puncaknya adalah Tarian Perang yang melibatkan 1.000 penari. Mereka berasal dari 3 suku besar di dataran tinggi Wamena dan Lembah Baliem. Yaitu Suku Dani, Lani, dan Yali
1000 Orang yang membawakan Tarian Perang, terbagi dalam 26 kelompok besar. Setiap kelompok terdiri dari 30-50 penari.
“Festival Lembah Baliem ini menjadi spot terbaik untuk memotret keindahan Papua dalam waktu yang terbatas. Siapkan saja kamera terbaik. Pastikan memory-nya besar sehingga bisa menampung banyak file. Sebab, festival ini akan memberikan banyak kejutan dengan pesonanya yang luar biasa,” terang Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.
Menampung kreativitas budaya terbaik Bumi Cenderawasih, area besar sudah disiapkan sebagai venue. Luasnya mencapai 400 meter persegi. 250 meter persegi diantaranya akan dipakai sebagai medan perang. Beragam detail ornamen khas Papua akan juga dipasang.
Menurut Pitana, Tarian Perang khas Papua ini sangat terkenal. Karena sudah sangat dikenal.
“Meski hanya simulasi dan berupa tarian, tapi semuanya dikemas bagus. Selain venue, kostumnya juga sangat artistik khas Papua. Tarian Perang ini jadi salah satu sajian yang paling ditunggu oleh wisatawan dari Papua. Untuk itu, festival ini jangan sampai terlewatkan,” lanjutnya lagi.
Tarian Perang ini akan digelar selama dua hari. Menariknya, simulasi perang ini juga akan dimeriahkan dengan dengan alat musik tradisional Pikon. Yaitu alat musik yang terbuat dari kulit kayu. Suara khas akan dikeluarkan oleh Pikon kala ditiupnya. Suaranya merdu bahkan menenangkan.
Ketua Pelaksana Top 100 Calender of Event (CoE) Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti memuji pelaksanaan festival ini.
“Festival Lembah Baliem sangat kaya warna dan budaya Papua. Tarian Perang merupakan instrumen penting kekayaan budaya mereka. Ada juga Pikon yang unik. Tidak banyak orang bisa memainkan alat musik ini. Hanya mereka punya keahlian khusus,” kata Esthy Reko Astuti
Selain atraksi budaya, Festival Lembah Baliem juga siap memamerkan kekayaan kuliner.
“Selain seni budaya khasnya, Papua juga kaya dengan kuliner. Semuanya akan disajikan secara natural. Jadi, wisatawan benar-benar bisa menikmati keseharian mereka,” tuturnya.
Namun, beberapa catatan wajib diingat oleh wisatawan. Sebelum menikmati Festival Lembah Baliem, ada syarat administrasi yang harus dipenuhi. Mereka harus memiliki Surat Keterangan Jalan. Syarat ini bisa didapatkan dari beberapa Kantor Kepolisian yang berada di wilayah Jayapura, Merauka, Timika, Biak, Nabire, hingga Manokwari.
“Terkait syarat administrasi ini juga harus diperhatikan. Hal ini tidak untuk mempersulit, tapi hanya sekedar pendataan saja. Tujuannya, agar wisatawan semakin nyaman saat menikmati eksotisnya Festival Lembah Baliem,” tegasnya. [hrs]
Festival ini akan digelar 7-10 Agustus 2019 dengan acara yang dipusatkan di Lembah Baliem, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Dalam festival ini, beragam kekayaan artistik khas Bumi Cenderawasih akan ditampilkan secara kolosal. Puncaknya adalah Tarian Perang yang melibatkan 1.000 penari.
Mereka berasal dari 3 suku besar di dataran tinggi Wamena dan Lembah Baliem, Suku Dani, Lani, dan Yali
Total 1000 orang yang membawakan Tarian Perang, terbagi dalam 26 kelompok besar denan setiap kelompoknya terdiri dari 30-50 penari.
“Festival Lembah Baliem ini menjadi spot terbaik untuk memotret keindahan Papua dalam waktu yang terbatas. Siapkan saja kamera terbaik. Pastikan memory-nya besar sehingga bisa menampun banyak file. Sebab, festival ini akan memberikan banyak kejutan dengan pesonanya yang luar biasa,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.
Menurut Pitana, Tarian Perang khas Papua ini sangat terkenal.
“Meski hanya simulasi dan berupa tarian, tapi semuanya dikemas bagus. Selain venue, kostumnya juga sangat artistik khas Papua. Tarian Perang ini jadi salah satu sajian yang paling ditunggu oleh wisatawan dari Papua,” lanjutnya lagi.
Menariknya, simulasi perang ini juga akan dimeriahkan dengan dengan alat musik tradisional Pikon, yaitu alat musik yang terbuat dari kulit kayu.
Selain atraksi budaya, Festival Lembah Baliem juga siap memamerkan kekayaan kuliner.
Namun, beberapa catatan wajib diingat oleh wisatawan. Sebelum menikmati Festival Lembah Baliem, ada syarat administrasi yang harus dipenuhi. Mereka harus memiliki Surat Keterangan Jalan.
Syarat ini bisa didapatkan dari beberapa Kantor Kepolisian yang berada di wilayah Jayapura, Merauka, Timika, Biak, Nabire, hingga Manokwari.
Penyelenggaraan Festival Lembah Baliem, mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menurutnya, festival ini levelnya dunia.
“Event ini levelnya sudah dunia. Masyarakat internasional sudah mengetahuinya. Sebab atraksi, aksesibilitas, dan amenitas di sana bagus. Dijamin wisatawan akan puas saat berkunjung ke sana,” tuturnya, Rabu (1/8).
Menurut Menpar keindahan alam Papua sudah diakui dunia.
“Papua sangat terkenal dengan keindahannya. Nature dan culturenya sangat eksotis. Festival Lembah Baliem 2018 ini juga sangat artistik. Beragam karya terbak dari Bumi Papua akan disajikan secara luar biasa,” tuturnya.
Wamena, Suku Dani yang mendiami Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, memiliki budaya yang unik. Karena keunikannya, Suku Dani selalu menjadi pusat perhatian wisatawan lokal dan mancanegara.
Pemkab Jayawijaya bahkan membuat Festival Budaya Lembah Baliem, untuk memperlihatkan sejumlah keunikan yang dimiliki dalam budaya Suku Dani.
Salah satu keunikan Suku Dani adalah seni pahatan. Sayangnya, seni pahatan yang dibuat oleh Suku Dani yang mendiami wilayah pegunungan tengah Papua kurang dikenal. Justru seni pahatan dari Papua lebih dikenal dari Asmat, Sentani atau daerah pesisir lainnya.
Salah satu pemahat dari Suku Dani adalah Nicolaus Haluk. Ia tinggal Kampung Siepkosi, Distrik Walelagama, Kabupaten Jayawijaya. Nicolaus merupakan perintis pemahat patung berciri khas budaya Suku Dani.
Nicolaus yang ditemui di sanggarnya berukuran 6 x 7 meter, tampak bahagia. Lokasi sanggarnya terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. Ia menyambut hangat kedatangan BumiPapua.com.
“Wa, wa, wa,” kata Nicolaus yang mengucapkan selamat datang dalam bahasa Suku Dani, kepada BumiPapua, sambil mempersilahkan masuk ke dalam sanggarnya.
Nicolaus dengan antusias memperlihatkan sejumlah pahatan patung yang sedang dikerjakan dan juga pahatan yang sudah jadi. Semangat Nicolaus sangat membara, walaupun ia mengerjakan karyanya di dalam sanggar yang tak layak huni.
Pria kelahiran 9 September, 59 tahun ini mulai berkisah awal mula mempelajari seni pahat yang dimulai sejak 1981.
“Model pahatan yang biasa saya buat adalah keseharian Suku Dani di Wamena, misalnya lelaki Suku Dani memaki holim atau koteka. Saya tidak pernah membuat karya dari daerah lain, karena sama saja memperkosa budaya daerah itu,” kata bapak 4 orang anak ini.
Belajar Otodidak
Sanggar Seni yang juga kediaman Nicolaus Haluk di Wamena. (BumiPapua.com/Stefanus)
Dalam mempelajari pahatan, Nicolaus mengaku tak pernah belajar di sekolah formal. Ia justru mengenal seni memahat berawal dari kekecewaannya, karena tak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA.
Nicolaus muda sempat menjadi tenaga pengajar pembantu misionaris katolik atau disebut Katekis. Namun, karena tak bisa melanjutkan pendidikan, maka ia memutuskan untuk menjadi Wene Wolok atau pewarta gereja Katolik di Siepkosi.
Nicolaus menyebutkan, saat itu dirinya juga diberhentikan sebagai tenaga honorer dari Keuskupan Jayapura. Ia sempat berfikir, bagaimana caranya bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup keluarganya.
“Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba mata saya tertuju pada batang pohon yang kayunya mirip gambar manusia. Saya bawa pulang kayu itu. Sampai di rumah, saya ambil pisau lalu saya korek sedikit-sedikit, sehingga berubah menjadi bentuk patung,” katanya.
Kata Nicolaus, sejak saat itulah ia mulai menggeluti kemampuannya memahat dengan alat seadanya, parang ataupun pisau, tanpa alat pahatan profesional.
Berbekal ketekunannya, Nicolaus menghasilkan karya pahatan pertamanya pada tahun 1992. Pahatan patung yang dibuatnya berukuran 50 cm yang langsung diberikan kepada Bupati Jayawijaya saat itu dijabat JB Wenas.
“Saya ingat, bupati memberikan uang Rp 600 ribu dan saya langsung dijadikan binaan pemerintah daerah Jayawijaya,” katanya.
Nicolaus menyebutkan berawal dari patung kecil yang dibuatnya, kini seni pahatan yang dihasilkan menjadi besar. Ia mengaku dalam sehari dapat membuat dua pahatan patung berukuran 60 cm. Jenis kayu yang dipilihnya menggunakan kayu yang biasa dibuat perahu atau ukulele.
“Saya pernah membuat patung setinggi orang dewasa dan menara pengintai melihat musuh perang. Karya ini pernah dipamerkan di depan Presiden RI Soeharto, saat kunjungannya ke Buper Waena pada 1997,” ujarnya.
Usai pertemuan itu, Presiden Soeharto lantas memerintahkan Bupati Jayawijaya untuk membawanya ke Subang, Jawa Barat guna mendalami seni pahatan.
Untuk memasarkan hasil karyanya, Nicolaus melakukannya dengan rutin dalam kegiatan Expo di Waena, mulai tahun 1992-1997. Kini, karya Nicolaus dapat dijumpai di Yayasan Oikonomos Wamena yang terletak di Jalan Gatot Subroto, depan Terminal Pesawat MAF. Karya Nicolaus berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.
“Patung Mumi hasil pahatan saya pernah terbeli dengan harga Rp 50 juta di Jayapura,” katanya.
Bakat yang Menurun
Karya pahatan Nicolaus Haluk. (BumiPapua.com/Stefanus)
Bakat memahat yang dimiliki Nicolaus tak sia-sia. Kempat orang anaknya bahkan mengikuti jejak sang ayah yang mahir dalam memahat patung.
Kata Nicolaus, anak sulungnya saat ini telah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Lalu anak kedua dan ketiga sempat putus sekolah, lalu anaknya yang paling bungsu masih duduk di bangku SMP.
Dirinya bersyukur sampai saat ini masih ada pembinaan dari Pemkab Jayawijaya. Bahkan Cucu Nicolaus yang bernama Siska Isaba ikut membantu menjual hasil pahatan sang kakek di Yayasan Oikonomos.
“Tete (kakek) adalah orang yang baik dan perhatian. Meski saya tidak pernah belajar memahat seperti kakek, tetapi orang tua saya bisa memahat mengikuti jejak Tete,” katanya.
Titus Meaga, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya yang berkunjung ke sanggar Nicolaus menyebutkan seniman pahatan di Lembah Baliem bisa dijumpai di daerah Siepkosi.
“Nicolaus adalah pelopor seniman pahat. Pemerintah saat ini memberikan pembinaan kepada 3 pemahat dari Suku Dani, termasuk Nicolaus,” katanya. (Stefanus)
Nusantara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke menyimpan kekayaan alam dan budaya autentik yang melimpah. Tak hanya datang untuk jalan-jalan, wisatawan dalam dan luar negeri juga dapat mengetahui lebih dalam soal kearifan lokal Indonesia lewat wisata budaya.
Setiap wilayah Tanah Air tentu memiliki ciri khas masing-masing yang super memukau. Sembari menikmati indahnya alam, pengunjung juga dapat melihat betapa menariknya budaya yang juga sarat akan edukasi.
Lantas, apa saja wisata budaya Indonesia yang wajib untuk Anda kunjungi? berikut ini yang dapat menjadi referensi destinasi wisata budaya mendatang.
1. Festival Budaya Lembah Baliem
Festival budaya tahunan ini bakal diselenggarakan di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada 7-10 Agustus 2019. Melansir festivallembahbaliem.id, Jumat, 8 Maret 2019, festival yang jadi ikon pariwisata Papua ini menampilkan atraksi kolosal perang-perangan, tarian tradisional, hingga seni merias tubuh dengan ragam aksesori suku Hubula.
Ada pula gelaran budaya yang disuguhkan di Festival Budaya Lembah Baliem mulai dari pertunjukan alat musik tradisional seperti pikon dan witawo, atraksi memasak tradisional, permainan anak, lempar sege, hingga karapan babi.
2. Mepantigan
Bali tak hanya indah karena alamnya tetapi juga keragaman budaya. Salah satunya Mepantigan yang berarti membanting. Ini erat kaitannya dengan kombinasi jurus silat tradisional Bali dengan bela diri lain seperti Karate, Taekwondo, hingga Capoeira dari Brasil.
Dalam silat ini tidak ada jurus mematikan dan siapa yang berhasil membanting lawan dan memasukkannya ke lumpur dapat merayakan kemenangan. Mepantigan juga bentuk dari ajakan untuk menghormati alam. Unsur lumpur adalah cara mengenalkan manusia dengan Dewi Sri yaitu Dewi Padi.
3. Jember Fashion Carnaval 2019
Solo Batik Carnival aksi bareng Jember Fashion Carnaval (Liputan6.com / Fajar Abrori)
Karnaval tahunan ini bakal berlangsung pada 31 Juli-4 Agustus 2019 di Jember, Jawa Timur. Jember Fashion Carnaval 2019 akan menampilkan parade kostum-kostum bertema Tribal Grandeur yang terinspirasi dari suku-suku bangsa di dunia.
Sebut saja kostum yang terinspirasi dari Suku Aztec di wilayah Meksiko sekitar abad ke-14, dari Suku Hudoq yang mendiami wilayah Kalimantan Timur, dari Suku Viking di Norwegia, dari Suku Karen di Thailand, hingga Suku Mongol di Mongolia.
4. Ma’Nene
Tana Toraja, Sulawesi Selatan juga memiliki sebuah ritual unik bernama Ma’Nene, tradisi mengenang para leluhur, saudara dan handai taulan yang telah meninggal dunia yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Baruppu.
Dalam ritual ini, jasad orang yang telah meninggal dikeluarkan dari peti lalu dan dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya. Ma’nene dilakukan setiap tahun sekali. Warga Baruppu meyakini jika ketentuan adat dilanggar akan datang musibah yang melanda seisi desa sepertu gagal panen atau salah seorang keluarga akan menderita sakit.
5. Silat Minang
Silat Minang (Vidio.com/Liputan6.com)
Jika di Bali ada Mepantigan, di Sumatera Barat ada Silat Minang yang dimainkan setelah panen dan sebelum sawah memasuki masa tanam. Ada beragam atraksi mulai dari menyingkirkan api hingga tarung di lumpur.
Silat Minang merupakan salah satu kearifan lokal yang terus dibangkitkan oleh banyak komunitas di Sumatera Barat. Silek, dialek setempat untuk silat menghadirkan gerakan lugas menyerang lawan dibalut atraksi memukau.
6. Sendratari Ramayana Prambanan
Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sendratari yang mempersembahkan kisah cinta Rama dan Shina dengan latar pemandangan Candi Prambanan yang indah. Aksi ini dilakukan di luar area Candi.
Melansir borobudurpark.com, Sendratari Ramayana Prambanan adalah sendratari yang paling rutin dipentaskan Sendratari Ramayana sejak 1961 silam. Cerita Ramayana berdasarkan epos Hindu yang diadaptasi dengan budaya Jawa membuat sendratari ini kian menarik.