Category: travel

  • Bandara Wamena, Gerbang Menuju Festival Lembah Baliem

    Wamena – Bandara Wamena di Papua kini semakin keren dan nyaman. Bandara baru ini menjadi pintu gerbang untuk liburan seru di Wamena, misalnya menyaksikan Festival Lembah Baliem.

    Kondisi bandara di Wamena yang jauh dari kata layak kini sudah tinggal kenangan. Wamena punya bandara baru dengan desain bangunan Rumah Honai khas Papua, yang tentunya lebih keren dan nyaman. Semangat liburan di Wamena pun makin berkobar karena bakalan disambut dengan bandara yang oke punya.

    Banyak sekali daerah yang bisa dijangkau dari bandara tersebut untuk liburan. Kalau berkendara sekitar 1 jam dari bandara, traveler bisa menginjakkan kaki di tempat yang setiap tahunnya menjadi lokasi acara favorit turis lokal dan mancanegara, yaitu Festival Lembah Baliem.

    Festival Lembah Baliem merupakan salah satu festival budaya tertua di Indonesia. Biasanya, festival dilaksanakan setiap bulan Agustus selama tiga hari. Festival ini menampilkan atraksi perang-perangan antar suku seperti Suku Dani, Lani dan Yali, sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

    Atraksi perang-perangan diperagakan para pria. Mereka akan membawa senjata tombak dan mengenakan pakaian khas serta aksesori lengkap, mulai dari koteka, kalung dari kerang hingga mahkota bulu burung. Sementara para pria beratraksi perang, wanita di sana yang mengenakan pakaian tradisional akan menari untuk menyemangati.


    Salah satu prosesi adat di Festival Lembah Baliem (Sastri/detikTravel)

    Selain itu, Festival Lembah Baliem juga makin seru dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah. Ada pula kerajinan tangan dari warga lokal yang dipamerkan dan dijual. Turis yang tertarik bisa langsung membelinya.

    Selama di Lembah Baliem, traveler pun bisa melihat langsung Bakar Batu. Ini merupakan cara memasak khas masyarakat Lembah Baliem, di mana batu-batu dipanaskan dengan api kemudian bahan makanan seperti babi dan hasil ladang dipanggang di atasnya.

    Pastinya, menyaksikan segala kemeriahan Festival Lembah Baliem bakalan menjadi pengalaman liburan tak terlupakan. Kalau tertarik, segeralah rencanakan liburan Anda ke Lembah Baliem dan pesan tiket pesawat serta hotel agar tidak kehabisan.


    (Sastri/detikTravel)

  • Pesona Lembah Baliem dan Labuan Bajo Tarik Minat Warga Denmark

    TEMPO.CO, Jakarta – Lembah Baliem, dan Komodo menarik perhatian pengunjung Danish Travel Show – Ferie for Alle di Herning, Denmark pameran wisata terbesar di Skandinavia.

    Dubes RI untuk Denmark, M. Ibnu Said, kepada Antara London, Minggu mengatakan anjungan Indonesia mempromosikan alternatif tujuan wisata selain Bali dengan perpaduan paket wisata alam dan budaya. Pameran wisata berlangsung selama tiga hari, 22 – 23 Februari 2019.

    Pada acara “Table Top Meeting”, yang mempertemukan “buyers” dan “sellers” paket wisata diadakan KBRI Kopenhagen di sela-sela pameran, Dubes Ibnu Said, mengatakan Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri lebih dari 17.000 pulau.

    Dikatakannya banyak tempat tujuan wisata selain Bali yang cukup dikenal warga Denmark.

    Indonesia memiliki paket tujuan wisata bervariasi, mulai dari eco-tourism, marine tourism, wisata seni dan kuliner, heritage villages hingga modern shopping dan entertainment di kota-kota besar.
    Sejumlah perahu berlabuh di Pelabuhan Labuan Bajo saat matahari terbenam di Nusa Tenggara Timur, Jumat, 12 Oktober 2018. Labuan Bajo merupakan salah satu tujuan wisata para delegasi IMF sebelum mereka berwisata ke Pulau Komodo. TEMPO/Tony Hartawan
    Sementara itu Oyan Kristian dari PT Komodo Tours menjual paket wisata di Labuan Bajo dan Pulau Komodo, serta wisata budaya Flores.

    Wisata alam dengan kekayaan fauna Kalimantan, seperti bekantan dan orang utan, menjadi daya tarik paket yang ditawarkan Lars Faursholt, Indonesia Travel Specialist dari Denmark.

    Sedangkan wisata budaya Papua, seperti festival Lembah Baliem, menarik perhatian hadirin karena keunikannya.

    Lars Faoursholt juga menawarkan Bali sebagai penutup paketnya, yang sudah cukup dikenal warga Denmark sebagai tempat berlibur.
    Peserta memainkan musik tradisional Pikon di Festival Budaya Lembah Baliem, di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Wamena, Papua, 9 Agustus 2017. Keunikan alat tradisonal ini menghasilkan bunyi nada dengan menggetarkan pikon menggunakan seutas tali yang terlilit di pikon dengan tangan. Tempo/Rully Kesuma
    Paduan bentuk wisata yang berbeda, seperti Pulau Komodo, Festival Lembah Baliem dan kedekatan dengan fauna seperti bekantan dan orang utan telah menarik perhatian pengunjung anjungan Indonesia dengan banyaknya menanyakan paket tersebut.

    Sementara itu, CEO MCH Messecenter Herning, Georg Srensen, mengatakan Danish Travel Show atau Ferie for Alle adalah pameran pariwisata yang paling banyak dikunjungi di wilayah Skandinavia dengan jumlah pengunjung lebih dari 60.000 pengunjung dan diikuti lebih dari 1.100 exhibitors.

    Pensosbud KBRI Kopenhagen, Dieny Maya Sari mengatakan KBRI Kopenhagen berpartisipasi pada pameran yang diadakan setiap tahun karena kesempatan besar untuk mempromosikan wisata Indonesia di wilayah Skandinavia, khususnya Denmark.

    Liburan merupakan hal penting bagi warga Denmark. Berdasarkan survey Expedia, setidaknya 81 persen warga Denmark mengambil libur selama empat minggu setiap tahunnya.

  • Festival Lembah Baliem yang Mendunia

    FESTIVAL Lembah Baliem adalah festival budaya yang sudah diadakan lebih dari 29 kali. Festival ini sejak dahulu kala sangat terkenal sehingga turis mancanegara rela berbondong bondong datang ke Papua khusus untuk acara ini saja. Bagi kita, Festival Lembah Baliem mungkin terdengar asing. Ya wajar sih, karena untuk ke sini saja butuh perjuangan dalam perjalanan yang cukup panjang dan mahal juga tentunya. Tetapi walaupun kita jarang mendengar Festival Lembah Baliem Wamena tetapi turis asing sangat ingin ke sini. Di kalangan turis mancanegara, festival ini sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu. Festival Lembah Baliem Papua adalah destinasi impian fotografer, begitupun juga saya. Sejak 3 tahun lalu saya sudah lama memimpikan untuk mengunjungi Festival Lembah Baliem di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2017.

    Akhirnya impian itu terwujud pada tahun 2015 ini. Kenapa sih orang begitu tertarik untuk ke Wamena? Karena Lembah Baliem di Wamena terletak di daerah terpencil dan sulit untuk didatangi. Begitu pula dengan kebiasaan Suku Dani yang “maaf” mereka sangat komersial. Suku ini dikenal di kalangan wisatawan dan fotografer jika kita ingin mengambil foto harus membayar sejumlah uang kepada mereka. Nah, pada saat festival inilah kita bisa memotret dengan bebas penampilan Suku Dani. Lantas, apakah rumor yang mengatakan memotret Suku Dani pada saat hari biasa harus bayar dengan uang? Jawabannya iya. Jika hari biasa kita harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk bisa membayar para Suku Dani ini. Saya tidak tahu “budaya” meminta uang ini muncul dari mana, tetapi dari beberapa sumber yang saya dapatkan kebiasaan ini muncul karena dahulu banyak turis asing dan orang-orang kaya luar negeri yang datang ke Wamena. Mereka kasihan dengan keadaan masyarakat adat yang memang tertinggal, baik ekonomi maupun pendidikan. Akhirnya, para turis asing dan orang kaya tersebut sehabis memotret membayar mereka dengan uang. Kebiasaan ini menjadi semakin membudaya ketika orang datang dan memotret mereka, dan ujung-ujungnya mereka meminta sejumlah uang. Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.

    Terlepas dari kebiasaan yang menurut saya buruk tetapi di Lembah Baliem Wamena punya budaya yang mereka jaga sejak dahulu, dan mereka menampilkannya pada Festival Lembah Baliem yang luar biasa dan telah menjadi daya tarik turis sejak dahulu ke Papua. Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali. Pada saat festival kita bisa melihat simulasi perang dan pertunjukan tarian yang mereka perlihatkan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk dinikmati. Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus dan biasanya bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Tetapi pada tahun 2015 ini diadakan pada tanggal 6 sampai 8 Agustus. Ternyata Festival Lembah Baliem sudah diadakan ke 25 kalinya, Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.

    Adanya pemicu ini menyebabkan suku lainnya harus membalas dendam sehingga penyerbuan pun dilakukan. Atraksi ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema tetapi justru bermakna positif. Suku-suku di Papua meski mengalami modernisasi tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria Suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka. Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari. Sedangkan kaum perempuan Suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para perempuan membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka. Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas.

    Para ahli antropologi menjelaskan bahwa “Perang Suku Dani” lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh. Perang bagi Suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Seringkali, karena perang orang terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang. Puncak acara adalah pertempuran antara Suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang mengenakan tanda-tanda kebesaran terbaik mereka. Festival ini dimeriahkan dengan pesta babi yang dimasak di bawah tanah disertai musik dan tari tradisional khas Papua. Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual.

    Setiap suku memiliki identitasnya masing-masing dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka. Laki-laki suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan laki-laki suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata laki-laki Suku Dani. Sedangkan kaum laki-laki Suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang. Menghadiri Festival Lembah Baliem maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat yang berbeda-beda tanpa harus mengunjunginya ke pedalaman Papua yang jauh dan berat.

    Diperkirakan festival ini diikuti oleh lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka. Yang perlu Anda lakukan selama festival hanya mengamati dan menikmati perang saja sambil memotret. Semakin lama festival ini berlangsung maka suasana perang dengan tombak, parang, dan panah yang menghantam lawan akan semakin dekat dan seru. Semakin banyak tombak yang meleset maka semakin keras sorakan dari ratusan penonton. Suku-suku ini telah mengikuti festival perang setiap tahun sehingga acaranya semakin menarik tiap tahunnya. Festival Lembah Baliem memang diadakan selama 3 hari. Anda bisa menyaksikan festival pada saat pembukaan di hari pertama.

    Karena suasana memang meriah pada saat pembukaan. Pada hari lain anda bisa berjalan jalan sambil memotret keindahan alam Lembah Baliem yang memukau. Terus terang Lembah Baliem Wamena merupakan destinasi impian saya, sudah 3 tahun saya selalu gagal ke sini dan akhirnya baru kesampaian sekarang karena akses menuju sini sangatlah mahal. Terbatasnya hotel dan kendaraan yang ada di sini apalagi pada saat festival membuat hotel di Wamena penuh tamu dan sangat susah mencari penginapan. Jika anda ingin mengunjungi Wamena pada saat festival, saya sangat menyarankan untuk ikut trip saja. Jika anda mendadak datang ke sini, saya bisa pastikan susah mendapat penginapan dan kendaraan (mobil saja ke sini diangkut pesawat terbang).

     

  • Baliem Valley, Indonesia

    Tony visited Wamena, capital of Baliem Valley, with a couch surfing friend, Raymond. Raymond is from Wamena, and Tony stayed with his lovely family just outside the town. The Baliem Valley is home to many cultural tribes most noticeably Dani, Lani and Yali. Raymond’s family are Lani.

    The only way to reach Wamena is by plane. Trigana and Wings have several flights a day from Jayapura. Almost all produce is flown in by transport plane, hence it is an expensive area. Petrol is three times the price compared to Jayapura. Once Raymond and I had landed, we visited the local police station to obtain a Surat Jalan, a pass allowing me to visit the region. A passport photocopy was required plus two photographs.

    We rented a taxi for a half-day visit to a couple of local villages. The main stop was at Jiwika. This village is home to a 371 year old mummy. I was allowed to take photos with the mummy for a fee! The bones felt like wood and he has a large mouth and no teeth! This is a tourist village and the locals take off their clothes when tours arrive. People used to live naked in the mountains but modernity has come to the area in recent times. For 10,000 Indonesian Rupiah per person, approximately 50 pence, I could have my photo taken with the naked villagers, men, women and children. Raymond gathered about 20 people and I had a quick feel of one naked women – she was very nice!

    Go To Baliem Valley festival

    After this we headed to Raymond’s home about one kilometre from downtown Wamena. I met his family, sister, and his aunt and uncle plus their three daughters. We sat on the grass chatting, Raymond translating. I said ‘Halo’, Indonesian for hello, and shook hands. His house is a simple affair with a front room where I slept on a mattress then several other rooms leading to a simple bathroom. The toilet is a hole in the ground and flushing is by putting water into the hole afterwards. The shower is a bucket of cold water over the head! It rained every evening and on my first night there I met a local priest. He was impressed that a blind man could travel the world and prayed for me. We ate sweet potato and cooked vegetables. I played with kids who spoke some words of English. Everyone has tight curly hair like African people.

    On my second day, Raymond hired a motorbike and we explored some of the valley. Visiting local villages and taking photos of the rocky mountainous and tree-lined terrain. Grapes, watermelon, bananas and many other fruits line the roadside and the grass had a coffee smell. We attempted to drive to the mouth of the Baliem River but had to turn back due to dense grass. The water was sighted and also the old Iron Bridge across the Baliem River. Eventually we reached an area called White Sand. A beach-like place with many rough rocks and some trees. The sky was blue with clouds forming. Local kids took photos but we had to pay to visit the area! We raced the rain clouds but they soaked us before we reached Wamena.

    My second night was spent by the fire in Raymond’s small honai – a local traditional sleeping house. In the villages, the men and women have separate honais. More sweet potatoes and cooked veggies were eaten and I tried a local delicacy, Red Dragon Fruit. It is somewhat spiky and oval in shape. It is full of oil and your fingers and lips become red when eating it. They boil it on the fire and this creates a pan of thick oil which is drunk with seeds being spat out. It tasted thick and heavy to me, oily and not too delightful!

    The third day was spent visiting more old villages and hiking to Napua Waterfall through the forest. This was fun. Raymond lead me and we had to cross the river twice. The second time I removed my shoes and socks and went bare foot. The water was cool and inviting. The ground was very muddy with recent rain and I slipped several times. We climbed down the trail and finally reached the waterfall, a wonderful sound to my ears. After 15 minutes rest Raymond pulled me back up the steep incline of muddy steps to the trail and we retraced our steps. Recrossing the river, Raymond made a video of me walking through the river. Naturally I fell and swore. I made it to the other side and Raymond helped me up the bank, where I once again fell over with Raymond landing on top of me. Ten minutes later we exited the forest and rode back to Wamena.

    My fourth and final day was Sunday, everything was closed and most people went to church. Raymond and I relaxed. The previous evening I had bought pork and we shared it around the fire. In the early evening we visited a village where Raymond was born and where his Grandma had recently died. The villagers were overwhelmed to see Raymond and fascinated with me! Again it rained. To leave the village in the dark Raymond had to take the bike up to the road because the fields were muddy. I had to walk in the rain and climb over two fences! That night we had chicken and rice Nasi Aiam at midnight. The following morning we flew back to Jayapura.

    repost from : http://www.tonythetraveller.com/2015/03/03/baliem-valley-indonesia/ 

  • Baliem Valley festival in Wamena, Indonesia.

    The Dani, Yali and Lani tribes gather at this annual festival dressed in distinctive attire to stage mock battles, perform traditional music and dance, and celebrate with a pig roast.

    There are remote places in Indonesia, and then there are remote places in Papua, Indonesia, a land of rich traditions and exotic tribes often referred to as Indonesia’s Last Frontier. The Baliem Valley is perhaps one of the relatively more accessible places in Papua, from where foreigners can gain insight into the cultural complexities of this part of the world.

    The differences between Papua and the rest of the country are stark, starting with the appearance of the Papuans themselves, who are ethnically Melanesian, but comprise of several tribes who speak over 250 different languages. Few Papuans actually follow a modern life-style, and a further difference is that Papua does not have the Islamic heritage pertaining to most of Indonesia.

    So, when you are traveling across the Baliem Valley, Papua, you might be forgiven for feeling that you are no longer within Indonesia. Cannibalism and head-hunting continued to be practiced in Papua right up to the 1970’s, and the region is still considered to be well behind modern times, having been described as “20th-century Stone-Age” upon discovery.

    Amazingly Beautiful Nature of Baliem Valley

    West Papua has been well known for its beautiful nature. That is especially for some places there which are more than beautiful. It is including Baliem Valley which is amazingly adorable so that it can be one of the must visit places when you go to West Papua. We have described the nature of this place which is really amazing in brief above.

    This place is completely that attractive with Baliem River which separate Valiem Valley. The river flows to Grand Valley and then it empties to Arafura Sea. Baliem Valley offers the beautiful nature which can make the visitors feel amazed. You will see not only the adorable yet dashing mountains but also in the height, you can see the fields of the residents there which often look so green, fresh, yet refreshing. It becomes perfect with its cool temperature there. You will feel peaceful, refreshed, and of course feels much healthier because we get the fresh air there.

    Baliem Valley Trekking

    Trekking is the reason for which most people head to Baliem Valley. Baliem Valley trekking not only provides fantastic views over the valley, it’s rivers and lush landscape, but is the best way (and in many cases the only way) of coming across members of the different, remote Papuan tribes.

    There are few to no roads outside of Wamena so the more remote parts of the Baliem Valley, and areas outside of it can only be explored on foot.

    Costs for Baliem Valley trekking expeditions with guides are often incredibly high and prohibitive to most people traveling on a restrictive budget. Although hiking some parts of the valley in the village area without a guide is possible, hiring a guide in this region, one who knows the area and is familiar with tribal customs and dialect, is highly recommended.

    Tribal warfare continues to be practised in the valley and conflicts are common, and although this is not directly targeted at tourists, the risk of getting caught in a cross fire is high, especially if you are not aware and familiar with your surroundings. The situation could potentially become very dangerous and indeed, during our time in Wamena, guides were refusing to take trekkers to one particular area of the valley because of some violent incidents pertaining to tribal conflict.

    What is so particular about villages in the Baliem Valley?

    Traditional dress

    An elderly man dressed in his traditional koteka - The Tribes and Mummies of the Baliem Valley, Papua

    Males traditionally wear a Koteka to cover their penis, and little else. A koteka is a penis sheath made from dried gourd (yes, the vegetable) and is normally tried to the scrotum. The idea of this contraption made Nikki squirm and he wasn’t sure whether he would feel comfortable spending much time with the tribes wearing such attire.

    The way in which a man wears his koteka can give an indication as to what tribe he belongs to, and different kotekas are worn on different occasions. Admittedly, I found it hard to meet the villagers on our independent Baliem Valley tour without staring at their kotekas since I found it to be such a weird item of clothing. I felt embarrassed for staring so intently at their private parts, but they did not seem at all bothered! Nikki did fine too 😉

    Women are often bare-breasted and wear grass skirts as do some of the children.

    Fingerless women

    Crushing fingers is a tribal tradition in the Baliem valley - The Tribes and Mummies of the Baliem Valley, Papua

    You will notice that many of the older women in Wamena and in the villages of the Baliem Valley are missing some of their fingers. The ancient practice (which is now banned) sees a woman having her fingers amputated to mark the loss of a relative, symbolising the pain after the loss. It was normally performed by a village ‘specialist’ using a straight-edged stone, after striking the woman’s elbow with a stick to numb the nerve, and thus reduce the pain of the procedure. The chopped-off finger is burnt along with the body of the deceased.

    Things to know before you travel to the Baliem Valley

    Surat Jalan

    This is essentially a travel permit which you need to purchase to access some spots in Papua. You can obtain the permit from the police authorities in some cities in Papua such as Jayapura and Sentani. The permit can also be made in Wamena itself and will allow you to travel in the Baliem Valley. We always intended to make the permit at the Wamena Police Station, but kept forgetting to do so every time we passed by.

    We were not sure whether it was mandatory to have a permit or not (due to conflicting information) when staying in Wamena, but it seemed to be required mostly for going outside of the main town. The permit SHOULD be free of charge, but it is not uncommon for a fee to be charged. If you need the permit, bring along two passport photos. You need to list every place outside of Wamena that you intend passing through, which sounds like quite a hassle if you are planning a long trek.

    Once you have your permit, be sure to make several copies of it. When you arrive to the main town of the regency you are passing through, head to the local police station with your permit to be registered.

    If you hire a guide for a Baliem Valley tour or Baliem Valley trekking, he should be able to help you with all Surat Jalan formalities.

    Weather conditions

    March – August sees less rainfall, but it can rain at any time in the Baliem Valley and rain should not be a deterrent to your plans. Be sure to carry around a good thin waterproof rain jacket in Wamena, and a thicker jacket if you are trekking to a higher altitude where the nights tend to be very chilly.

    Renting a scooter for an independent Baliem Valley tour

    Scooter rentals are awfully expensive in Wamena, and very difficult to find. Our guesthouse owner arranged our rental from a friend and this was only possible after asking around a couple of days. None were available before. The rental set us back 250,000 IDR (about €15) a day which would be an outrageous price anywhere else in Indonesia, but actually a good deal in Papua, where everything is so much more expensive. The scooter was sparkling new!

    Two women waiting at the wamena market place - The Tribes and Mummies of the Baliem Valley, Papua

    There are very few places which are still unexplored on our planet. The Baliem Valley is probably not one of them, but the area surrounding it may certainly be! Even now, in the 21st century when travel has been made so easy, visitors to Papua are few, and not many people make it to the very remote tribal lands.

    Although we didn’t get to go too far out of Wamena, the Baliem Valley has got to be one of the most special places that we have traveled to, and this thanks to the unique culture that makes the region so incredibly rich, and colourful. If you’re looking to travel to one the world’s last frontiers, Wamena would make a good base!